Gambar Ilustrasi
Opini Budaya
Oleh : Toto Cahyoto, MH.

Penulis Adalah Praktisi Hukum, Founder & Managing Partner Toppasal Law Office.
Pemerhati sosial serta kebijakan publik di bidang hukum.
Direktur Ekskutif LBH Tombak Pergerakan dan Pembelaan Surya Laksana Indonesia (LBH Toppasal Indonesia). Ketua DPD Peradi Bersatu Provinsi Banten. Aktif sebagai Jurnalis, penulis buku, diantaranya (Pengaruh Politik Dalam Penegakan Hukum., Officium Nobile Integritas Advokat di Era Tantangan Hukum., Peran Penting Paralegal Dalam Lembaga Bantuan Hukum, Pamali dalam Perspektif Filosofi Hukum. terbitan 2025) artikel, jurnal, dan opini.
_____________________________________________________________________
Dalam panggung besar Mahabharata, nama Sengkuni hampir selalu hadir dengan nada sumbang. Ia dikenang sebagai penasihat Kurawa yang licik, penghasut ulung, dan ahli memutarbalikkan fakta. Dalam bahasa modern, ia kerap disematkan sebagai “pengacara hitam” pembela yang memenangkan perkara bukan dengan kebenaran, melainkan dengan kecerdikan yang berkelok.
Namun kebudayaan tidak pernah sesederhana hitam dan putih. Wayang bukan sekadar kisah tentang baik dan jahat, melainkan cermin tentang kompleksitas manusia dan zaman. Dalam konteks itu, Sengkuni layak dibaca lebih dalam: bukan semata sebagai perusak tatanan, tetapi sebagai katalis lahirnya zaman baru zaman Kali Yuga.
Sengkuni adalah sosok yang lahir dari luka. Dalam banyak tafsir pedalangan, ia menyimpan dendam terhadap Hastinapura. Luka batin itu menjelma menjadi strategi, intrik, dan siasat. Ia tidak bertarung dengan gada seperti Bima, tidak pula memanah seperti Arjuna. Senjatanya adalah pikiran tajam, licin, dan tak terduga. Di sinilah paradoksnya: kecerdasan yang tidak dibingkai oleh moralitas dapat menjadi kekuatan yang dahsyat sekaligus berbahaya.
Tetapi justru dalam daya rusaknya itulah Sengkuni memainkan peran kosmis. Dunia Mahabharata sebelum perang Bharatayuda adalah dunia yang penuh kemunafikan terselubung. Ketidakadilan terjadi, tetapi ditutup oleh tata krama istana. Perebutan kuasa berlangsung, namun dibungkus kesantunan politik. Sengkuni datang sebagai pembuka topeng. Ia memaksa konflik yang laten menjadi nyata.
Kita bisa melihatnya sebagai arsitek percepatan sejarah. Tanpa Sengkuni, mungkin dendam Kurawa dan Pandawa akan terus membara tanpa penyelesaian. Tanpa tipu dayanya dalam permainan dadu, mungkin tidak pernah ada eksil Pandawa, tidak ada perenungan panjang di hutan, dan tidak ada klimaks perang yang membersihkan tatanan lama. Ia mempercepat datangnya Kali Yuga zaman kegelapan agar dunia lama yang rapuh segera runtuh.
Dalam filsafat Jawa, kehancuran bukan selalu musibah; ia sering kali menjadi prasyarat pembaruan. Sengkuni, dengan segala kelicikannya, memaksa dunia memasuki fase pembusukan agar lahir kesadaran baru. Ia adalah “energi negatif” yang membuka jalan bagi transformasi. Tanpa antagonis, protagonis tidak pernah mencapai puncak kebijaksanaan.
Sebagai penasihat Kurawa, Sengkuni memang piawai memutarbalikkan fakta. Namun dari sudut lain, ia adalah pengingat bahwa hukum dan politik selalu rentan dimanipulasi oleh mereka yang cerdas tetapi kehilangan kompas moral. Ia mengajarkan secara ironis betapa pentingnya integritas. Dengan melihat kerusakan yang ditimbulkannya, kita belajar tentang nilai kejujuran.
Dalam konteks Kali Yuga, zaman yang ditandai oleh kemerosotan moral, Sengkuni dapat dipandang sebagai pembuka tirai. Ia bukan sekadar penjahat, melainkan simbol zaman itu sendiri: zaman ketika kecerdikan mengalahkan kebajikan, ketika retorika menutupi kebenaran, dan ketika ambisi pribadi menggerogoti tatanan bersama. Ia adalah personifikasi era yang menuntut manusia lebih waspada.
Namun, ada sisi lain yang jarang dibicarakan. Sengkuni setia pada keluarganya. Ia membela Kurawa bukan karena tanpa alasan, tetapi karena loyalitas dan dendam sejarah. Dalam etika tradisional, kesetiaan adalah nilai luhur, meski arah kesetiaan itu keliru. Ia konsisten, cerdas, dan tak pernah setengah hati dalam menjalankan perannya. Ia adalah contoh ekstrem tentang bagaimana kualitas baik kecerdasan, loyalitas, keteguhan dapat berubah menjadi destruktif ketika dipandu niat yang kelam.
Maka membaca Sengkuni secara kultural adalah membaca tentang ambiguitas manusia. Ia bukan iblis murni, melainkan manusia yang memilih jalan gelap dengan kesadaran penuh. Ia tahu risiko, tetapi tetap melangkah. Dalam hal ini, ia justru memperlihatkan kebebasan kehendak bahwa manusia bertanggung jawab atas pilihannya.
Kali Yuga tidak lahir dari satu orang, tetapi dari akumulasi keserakahan, ambisi, dan kebutaan moral banyak pihak. Sengkuni hanyalah percikan api yang menyulut tumpukan jerami kering. Ia mempercepat proses yang memang sudah tak terelakkan. Dalam logika kosmis, setiap zaman memiliki tokohnya. Dan untuk zaman kegelapan, dibutuhkan figur yang berani menjadi bayangan.
Dari Sengkuni kita belajar bahwa kecerdasan tanpa etika adalah pedang bermata dua. Kita juga belajar bahwa sejarah bergerak bukan hanya oleh para ksatria suci, tetapi juga oleh mereka yang berjalan di tepi jurang. Ia mengingatkan bahwa dunia tidak berubah hanya oleh kebajikan, tetapi juga oleh konflik yang memaksa manusia berefleksi.
Akhirnya, Sengkuni bukan untuk diteladani, tetapi untuk dipahami. Ia adalah cermin tentang apa yang terjadi ketika akal dilepaskan dari nurani. Namun dalam perannya memulai Kali Yuga, ia juga menjadi bagian dari siklus besar kehidupan bahwa dari kegelapan akan lahir kesadaran baru.
Dalam dunia yang terus berulang antara terang dan gelap, Sengkuni berdiri sebagai simbol bahwa bahkan tokoh yang paling kontroversial pun memiliki fungsi dalam semesta. Ia adalah bayangan yang membuat cahaya terlihat lebih terang. Dan mungkin, tanpa dirinya, dunia tidak pernah belajar arti keadilan yang sesungguhnya. ***
