Ilustrasi Narayana
Opini Budaya
Oleh Toto Cahyoto, AP.kom, SE, SH, MH.

Penulis Adalah Praktisi Hukum, Founder & Managing Partner Toppasal Law Office.
Pemerhati sosial serta kebijakan publik di bidang hukum.
Direktur Ekskutif LBH Tombak Pergerakan dan Pembelaan Surya Laksana Indonesia (LBH Toppasal Indonesia). Ketua DPD Peradi Bersatu Provinsi Banten. Aktif sebagai Jurnalis, penulis buku, diantaranya (Pengaruh Politik Dalam Penegakan Hukum., Officium Nobile Integritas Advokat di Era Tantangan Hukum., Peran Penting Paralegal Dalam Lembaga Bantuan Hukum, Pamali dalam Perspektif Filosofi Hukum. terbitan 2025) artikel, jurnal, dan opini.
___________________________________________________________
Dalam jagat pewayangan, hukum tidak selalu berbentuk kitab tebal atau pasal-pasal yang kaku. Ia hidup dalam laku, dalam tutur, dalam kebijaksanaan seorang tokoh yang memahami batas antara benar dan kuasa. Di antara sekian banyak ksatria, ada satu sosok yang tidak selalu menghunus senjata, tetapi justru memenangkan pertempuran dengan kata dan kecerdasan: Kresna.
Prabu Kresna yang juga dikenal sebagai Narayana kerap disebut sebagai penasihat tertinggi Pandawa. Namun bila kita meminjam istilah modern, ia sejatinya adalah “pengacara agung” bagi mereka. Bukan pengacara dalam arti sempit yang sekadar membela kliennya mati-matian, melainkan pembela dharma keadilan yang berakar pada kebenaran.
Kresna tidak pernah berdiri di garis depan dengan amarah meledak-ledak. Ia justru hadir sebagai penimbang, sebagai penafsir keadaan. Ketika Pandawa terjebak dalam pusaran intrik politik Hastinapura, Kresna tidak serta-merta mendorong perang. Ia memilih jalan diplomasi. Ia datang sebagai duta, menyampaikan tuntutan yang sederhana: kembalikan hak yang dirampas, berikan ruang hidup yang layak. Dalam misi itu, kita melihat watak seorang negarawan sekaligus advokat sejati mendahulukan musyawarah sebelum pertumpahan darah.
Dalam dunia hukum modern, seorang pengacara sering kali diukur dari kemampuannya memenangkan perkara. Namun Kresna mengajarkan ukuran yang lebih tinggi: memenangkan kebenaran tanpa kehilangan nurani. Ia memahami bahwa kemenangan yang dicapai dengan cara culas hanya akan melahirkan luka baru. Maka setiap strategi yang ia susun bukanlah siasat kosong, melainkan taktik yang berpijak pada keadilan.
Kecerdasan Kresna bukan sekadar kelihaian retorika. Ia memahami tata negara, membaca peta kekuasaan, dan mengerti karakter manusia. Ia tahu kapan harus tegas, kapan harus lentur. Ketika berhadapan dengan para Kurawa yang keras kepala, ia tidak terpancing emosi. Ia justru menampilkan wajah hukum yang rasional: memberi kesempatan, membuka ruang dialog, tetapi tetap teguh pada prinsip.
Dalam dirinya, kita melihat perpaduan antara intelektualitas dan spiritualitas. Ia bukan hanya ahli strategi, melainkan penjaga moral. Seorang pengacara yang baik memang harus cerdas, tetapi pengacara yang agung harus adil. Kresna berdiri di tengah pusaran konflik sebagai jangkar etika. Ia membela Pandawa bukan semata karena kedekatan, melainkan karena ia meyakini mereka berada di pihak yang haknya dirampas.
Ada satu pelajaran penting dari lakon-lakon Mahabharata: Kresna tidak pernah membiarkan kekuasaan berjalan tanpa koreksi. Ia paham bahwa hukum dan kekuasaan sering kali berkelindan. Tanpa kebijaksanaan, hukum bisa dijadikan alat penindasan. Tanpa moral, kekuasaan menjadi tirani. Di situlah Kresna mengambil peran menjaga agar kekuasaan tetap berada dalam rel dharma.
Bila kita bayangkan ia hidup di zaman kini, mungkin ia adalah advokat konstitusi, penasihat negara, atau diplomat ulung yang mampu meredakan konflik sebelum menjadi perang terbuka. Ia akan berdiri di ruang sidang dengan argumen yang tajam, tetapi tetap santun. Ia akan menyampaikan keberatan dengan logika yang tak terbantahkan, namun tanpa merendahkan lawan.
Menariknya, Kresna tidak pernah terjebak pada formalitas semata. Ia memahami bahwa hukum bukan hanya teks, tetapi juga konteks. Ia membaca suasana, memahami psikologi, dan menimbang akibat jangka panjang. Itulah sebabnya setiap langkahnya terasa matang. Ia bukan sekadar memenangkan satu perkara, melainkan menjaga keseimbangan dunia.
Dalam budaya Jawa, Kresna kerap digambarkan berkulit gelap, berwajah teduh, dengan senyum tipis yang menyimpan kecerdikan. Simbol itu seakan menegaskan bahwa kebijaksanaan tidak selalu tampil mencolok. Ia tenang, tetapi dalam. Ia lembut, tetapi tegas. Ia mampu mengurai benang kusut persoalan tanpa harus menghunus keris.
Sebagai “pengacara” Pandawa, Kresna juga menunjukkan bahwa pembelaan sejati tidak selalu berarti membenarkan segala tindakan klien. Ia memberi nasihat, mengingatkan, bahkan menegur ketika perlu. Ia bukan pembela buta, melainkan penasihat yang menjaga agar langkah yang diambil tetap berada di jalur yang benar.
Di tengah dunia yang sering kali memuja kemenangan instan, figur Kresna mengingatkan kita pada nilai luhur profesi hukum: integritas. Bahwa kecerdasan harus berjalan beriringan dengan kebajikan. Bahwa strategi tanpa moral hanya akan melahirkan kekacauan. Dan bahwa keadilan sejati menuntut keberanian untuk berdiri di sisi yang benar, meski tidak populer.
Kresna adalah simbol bahwa hukum, ketika dipandu oleh kebijaksanaan, dapat menjadi alat pembebasan. Ia membuktikan bahwa diplomasi lebih mulia daripada kekerasan, bahwa dialog lebih utama daripada dendam. Dalam dirinya, kita melihat wajah advokat ideal: cerdas, adil, dan berpihak pada kebenaran.
Maka setiap kali kita menyaksikan lakon wayang dan melihat Kresna berdiri di antara Pandawa, sesungguhnya kita sedang menyaksikan gambaran luhur tentang profesi pembela. Seorang pengacara yang tidak sekadar membela perkara, tetapi menjaga dharma. Seorang penasihat yang tidak hanya mencari kemenangan, tetapi menegakkan keadilan.
Dan di situlah Prabu Kresna menjadi abadi bukan hanya sebagai tokoh pewayangan, melainkan sebagai teladan tentang bagaimana hukum seharusnya dijalankan: dengan akal yang tajam, hati yang jernih, dan keberpihakan yang teguh pada kebenaran. ***
